Kampanye pemilu demokrasi Indonesia untuk beberapa orang merupakan suatu humor yang besar di dunia. Dimana seorang alim ulama dan seorang (maaf) pelacur dianggap sama suaranya di dalam pemilu Indonesia, masing-masing mendapat satu suara. Ketika pemilu itu tidak ada perbedaan antara fatwa ulama dan ucapan seorang berandalan. jika dilihat sekilas ini akan tampak adil dimana setiap orang tanpa memandang miskin kaya, derajat, jabatan, akan mendapat hak yang sama. Akan tetapi kita melupakan beberapa hal yakni, perbedaan tingkat keimanan, perbedaan tingkat pendidikan akan menghasilkan hasil yang sangat berbeda pula. Walaupun Kampanye damai pemilu Indonesia 2009 tidak terkait langsung dalam hal ini. Kampanye damai pemilu Indonesia 2009 menghendaki untuk terciptanya perdamaian di bumi pertiwi ini. jauh dari menghakimi kebenaran system politik pemilu demokrasi itu sendiri.
Sebagai contoh adalah gambler atau penjudi atau
tukang game jit (istilah Banyumasan) dan juga dunia pelacuran. Dan hendaknya jangan mengatakan
tukang nggame jit dan prostitusi atau pelacuran ini hanyalah minoritas dari kita. Karena ada survey di Jakarta yang mengatakan bahwa 7 di antara 10 pria melakukan affair atau selingkuh di luaran. Itu survey pun sudah tidak menghitung anda dan saya, jika kita dimasukkan, wah anda bisa menghitungnya sendiri (joke he-he). Janganlah anda marah, ingat damai, damai sesuai moto
Kampanye damai pemilu Indonesia 2009. Jangan lekas marah, karena ini hanya gurauan saja.
Lalu bagaimana dengan tukang togel, gamer kartu alias perjudian? Beberapa dekade silam mungkin anda pernah ingat dengan yang namanya SDSB, atau bahkan mungkin pernah membeli kupon SDSB tersebut. Kini jaman telah berganti dan SDSB yang dulu hilang di Indonesia telah ber-reinkarnasi menjadi CP atau content provider yang mengiming-imingi para penguna ponsel dengan gadis cantik sebagai iklan dan ponsel kamera 10 mega pixel sebagai hadiah. cukup dengan sms premium ke nomor tertentu seharga tarif damai Rp. 2.000,-. Dan hampir setiap malam ada, lebih parah lagi kelihatannya hal ini lolos dari pengamatan Majelis Ulama Indonesia sehingga sementara hanya
fatwa haram merokok, yoga, dan
partai golongan putih pada Pemilu Indonesia 2009 saja yang dikampanyekan. Di acara kuis-kuis berhadiah ini para penjudi atau
tukang game jit yang dahulu atau keturunannya telah mendapatkan pelampiasan dengan cara yang damai dan seksama.
Dan telah jelas bahwa perbedaan tingkat pendidikan atau intelektualitas akan memproduksi hukum dan aturan yang jauh kualitasnya ibarat Jakarta-Surabaya jauhnya. Saya yakin anda akan setuju jika saya katakan peraturan yang dibuat seorang legislatif lulusan SMA akan berbeda dengan yang anggota legislatif bertitle S III yang gelarnya asli. Karena sudah sering terjadi dalam kampanye politik sekali lagi kampanye politik bukan
kampanye damai pemilu Indonesia 2009, seringkali terjadi manipulasi data ijasah menggunakan photoshop, tentu saja tukang blogger, tukang nggame online, tukang yang betul-betul tukang ahli seperti Mas Roy Suryo lebih paham tentang hal ini. Hal ini pernah pula disindir oleh seorang syaikh dari Saudi Arabia, waktu itu konon beliau sedang bercengkrama dengan Pak Amin Rais, katanya di arab tidak ada kampanye politik, seperti di Indonesia orang banyak berebut memamerkan wajahnya yang keren dan cantik di poster kampanye, tidak ada orang yang berebut mengajukan diri untuk mendapatkan posisi jabatan, tidak eh belum ada pula mengadakan semacam
kampanye damai pemilu Indonesia 2009 seperti yang sekarang saya ikuti dengan antusias, he he. Akan tetapi di sana anggota syuro semacam DPR di Indonesia yang kerjanya membuat hukum dan peraturan, mempunyai syarat minimal S II.
Akhirnya, jelas hasil dari pemilu di Indonesia ini biasanya jauh panggang dari api. Dan memang lebih mendingan apabila dalam pelaksanaan pemilu itu tidak ricuh seperti yang dikampanyekan oleh mas pogung dalam
Kampanye damai Pemilu Indonesia 2009.
Dengan kata lain pemilihan umum bisa sangat menghibur untuk kita, akan tetapi menurut yang sudah-sudah setelah hiburan itu usai, maka penderitaan akan datang kembali pada orang-orang kecil ketika ingatan telah dikembalikan kepada hutang-hutang mereka di warung seperti yang saya alami kini. (maaf seperti inilah kenyataan pahit yang saya berikan, untuk penyelenggara
Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009, mohon dipersori)
Comments :
Post a Comment